Teori Hirarki Pengaruh

Teori hirarki pengaruh isi media diperkenalkan oleh Pamela J Shoemaker dan Stephen D. Reese. Teori ini menjelaskan tentang pengaruh terhadap isi dari dari suatu pemberitaan media oleh pengaruh internal dan eksternal. Shoemaker dan Reese membagi kepada beberapa level pengaruh isi media. Yaitu pengaruh dari individu pekerja media ( individual level), pengaruh dari rutinitas media (media routines level), pengaruh dari organisasi media ( organizational level), pengaruh dari luar media (outside media level), dan yang terakhir adalah pengaruh ideologi (ideology level).[1]

Asumsi dari teori ini adalah bagaimana isi pesan media yang disampaikan kepada khalayak adalah hasil pengaruh dari kebijakan internal organisasi media dan pengaruh dari eksternal media itu sendiri. Pengaruh internal pada konten media sebenarnya berhubungan dengan kepentingan dari pemilik media, individu wartawan sebagai pencari berita, rutinitas organisasi media. Sedangkan faktor eksternal yang berpengaruh pada konten media berhubungan dengan para pengiklan, pemerintah masyarakat dan faktor eksternal lainnya.

Stephen D. Reese mengemukakan bahwa isi pesan media atau agenda media merupakan hasil tekanan yang berasal dari dalam dan luar organisasi media.[2] Dengan kata lain, isi atau konten media merupakan kombinasi dari program internal, keputusan manajerial dan editorial, serta pengaruh eksternal yang berasal dari sumber-sumber nonmedia, seperti individu-individu berpengaruh secara sosial, pejabat pemerintah, pemasang iklan dan sebagainya.[3]

Dari teori ini kita akan melihat seberapa kuat pengaruh yang terjadi pada tiap-tiap level. Walaupun level organisasi media atau faktor kepemilikan sebuah media tapi kita tidak bisa mengesampingkan faktor yang lainnya karena saling terkait satu dengan yang lainnya. Contohnya pengaruh level ideologi yang terjadi pada sebuah isi sebuah media, walaupun dianggap abstrak tapi sangat mempengaruhi sebuah media karena brsifat tidak memaksa dan bergerak di luar kesadaran keseluruhan organisasi media itu sendiri. Untuk lebih lengkapnya selanjutnya kita akan membahas teori hirarki pengaruh media ini berurutan mulai dari level pengaruh individu pekerja media.

  1. 1.      Level Pengaruh Individu Pekerja Media

Pemberitaan suatu media dan pembentukan konten media tidak terlepas dari faktor individu seorang pencari berita atau jurnalis. Arah pemberitaan dan unsur-unsur yang diberitakan tidak dapat dilepaskan dari seorang jurnalis. Pada pembahasan kali ini kita akan mendiskusikan tentang potensi yang mempengaruhi isi dari sebuah media massa dilihat dari faktor intra seorang jurnalis. Faktor-faktor seperti faktor latar belakang dan karakteristik dari seorang pekerja media atau jurnalis, perilaku,nilai dan kepercayaan dari seorang jurnalis dan yang terakhir adalah orientasi dari seorang jurnalis

Faktor individual dari seorang pekerja media sangat mempengaruhi pemberitaan sebuah media, ini dikarenakan seorang jurnalis sebagai pencari berita dan dapat mengkonstruk pemberitaan sebuah media. Seorang jurnalis sebagai sosok yang mengumpulkan dan membuat sebuah berita dapat dilihat dari segi personalnya. Salah satu faktor yang membentuk level individual dari teori hirarki pengaruh ini adalah faktor  latar belakang dan karakteristik.

Faktor latar belakang dan karakteristik dari seorang pekerja media menurut Shoemaker dan Reese dibentuk oleh beberapa faktor yaitu masalah gender atau jenis kelamin dari jurnalis, etnis, orientasi seksual,faktor pendidikan dari sang jurnalis dan dari golongan manakah jurnalis tersebut, orang kebanyakan atau golongan elit.[4]

Faktor-faktor latar belakang dan karakteristik dari seorang pekerja media tersebut sedikit banyak dapat mempengaruhi  individu seorang jurnalis. Fokus kita kali ini adalah faktor latar belakang dan karakteristik seorang jurnalis dilihat dari segi pendidkan seorang jurnalis. Banyak perdebatan mengenai kompetensi seorang jurnalis dilihat dari segi pendidikan. Ini dikarenakan tingkat intelektualitas atau disiplin ilmu yang diambil seorang jurnalis ketika di bangku kuliah dapat mempengaruhi pemberitaan sebuah media.

Banyak perdebatan yang terjadi Amerika Serikat mengenai tentang mana yang lebih kompeten antara jurnalis yang mendapatkan pendidikan jurnalis secara profesional atau justru jurnalis yang mendapatkan pendidikan dari disiplin ilmu lainnya diluar ilmu jurnalistik. Dahulu seorang jurnalis rata-rata hanya berasal dari jurusan yang berhubungan dengan jurnalistik. Tapi kini mayoritas pekerja media justru berasal dari disiplin ilmu yang lain seperti sejarah, ilmu politik dan disiplin ilmu lainnya.[5]

Ada beberapa kelebihan dan kekurangan antara seorang pekerja media yang mendapatkan Ilmu jurnalistik atau melalui disiplin lainnya yaitu seorang jurnalis yang mendapatkan  ilmu di bangku perkuliahan melalui ilmu jurnalistik memiliki kelebihan dalam teknik penulisan sedangkan yang kelebihan seorang jurnalis dari disiplin ilmu lainnya adalah mereka lebih konsen terhadap bidang ilmu yang digelutinya.

Faktor pendidikan ini mempengaruhi individu seorang jurnalis kepada sebuah penulisan berita karena kedalaman ilmu yang didapatkan oleh seorang jurnalis. Ilmu yang didapatkan seorang jurnalis dapat menetukan hasil penulisan sebuah berita yang disajikan seorang jurnalis. Karena dapat menentukan kualitas sebuah pemberitaan. Dalam atau tidaknya sebuah pemberitaan ditentukan oleh sang jurnalis.

Faktor kedua yang membentuk faktor individual adalah faktor kepercayaan, nilai-nilai dan perilaku pada seorang jurnalis. Faktor-faktor ini sangat mempengaruhi sebuah pemberitaan yang dibentuk oleh seorang juranalis. Karena segala pengalaman dan nilai-nilai yang didapatkan secara tidak langsung dapata berefek pada pemberitaan yang dikonstruk oleh seorang junalis. Walaupun aspek kepercayaan, nilai-nilai tidak bisa terlalu kuat membentuk efek kepada seorang jurnalis dikarenakan kekuatan aspek organisasi dan rutinitas media yang lebih kuat.[6]

Kami tidak dapat membuat pernyataan tentang pengaruh sikap pribadi komunikator, nilai-nilai dan keyakinan pada konten media. Tampak jelas bahwa sikap beberapa komunikator, nilai-nilai dan keyakinan mempengaruhi beberapa konten setidaknya beberapa waktu, tetapi pernyataan tersebut praktis tidak berharga. Adalah mungkin ketika komunikator memiliki kekuasaan lebih atas pesan mereka dan bekerja di bawah sedikit kendala, sikap pribadi mereka, nilai-nilai dan keyakinan memiliki lebih banyak kesempatan untuk mempengaruhi isi.[7]

Sesuai dengan apa yang dikatakan oleh Shoemaker dan Reese di atas bahwa nilai, perilaku dan kepercayaan yang dianut oleh sang jurnalis sebagai pencari berita tidak terlalu memberikan efek yang terlalu besar kepada sebuah pemberitaan, dikarenakan kekuatan yang lebih besar dari level organisasi media dan rutinitas media. Tetapi sedikit banyak faktor nilai, kepercayaan dan perilaku dari sang jurnalis dapat mempengaruhi sebuah pemberitaan.

 

 

  1. 2.      Level Rutinitas Media

Pada level ini mempelajari tentang efek pada pemberitaan dilihat dari sisi rutinitas media. Rutinitas media adalah kebiasaan sebuah media dalam pengemasan dan sebuah berita. Media rutin terbentuk oleh tiga unsur yang saling berkaitan yaitu sumber berita ( suppliers ), organisasi media ( processor ), dan audiens ( consumers ).[8] Ketiga unsur ini saling berhubungan dan berkaitan dan pada akhirnya membentuk rutinitas media yang membentuk pemberitaan pada sebuah media.

Sumber berita atau suppliers adalah sumber berita yang didapatkan oleh media untuk sebuah pemberitaan. Organisasi media atau processor adalah bisa dikatakan redaksi sebuah media yang mengemas pemberitaan dan selanjutnya dikirim kepada audiens. Dan yang terakhir adalah audiens atau consumer adalah konsumen sebuah berita di media yaitu bisa jadi pendengar, pembaca atau penonton.

Untuk mengupas tentang level rutinitas media, pertama-tama kita akan membahas tentang unsur audiens. Unsur audiens ini turut berpengaruh pada level media rutin. Ini dikarenakan pemilihan sebuah berita yang akan ditampilkan sebuah media yang pada gilirannya akan disampaikan pada audiens. Ketergantungan media terhadap audiens yang akan menghasilkan keuntungan bagi media, turut menjadi penyebab kenapa media sangat memperhatikan unsur audiens dalam pemilihan berita. Jadi media sangat memperhatikan salah satunya adalah nilai berita yang akan diberitakan sebuah media.[9]

Menurut Reese ada beberapa nilai berita yaitu faktor pentingnya sebuah pemberitaan ( Importance), faktor kemanusiaan (Human interest), faktor konflik atau kontroversi pada sebuah pemberitaan (conflict/controversy), faktor  ketidakbiasan sebuah berita yang diberitakan (the unusual), faktor keaktualan sebuah berita (timeliness), dan terakhir faktor kedekatan sebuah pemberitaan dengan audiens (proximity). [10]

Keenam nilai berita yang dipaparkan diatas berkaitan dengan rutinitas media berkaitan dengan audiens atau pembaca dari sebuah media pemberitaan. Seperti apa yang telah diungkapkan oleh Schesinger yang dikutip oleh Shoemaker dan Reese. Produksi rutinitas mewujudkan asumsi tentang audiens. “Penonton” adalah bagian dari cara dirutinkan kehidupan. Ketika datang untuk berpikir tentang jenis berita yang paling relevan dengan “penonton” wartawan melakukan penilaian berita mereka daripada pergi keluar dan mencari informasi spesifik tentang komposisi, ingin atau selera dari mereka yang sedang ditangani.[11]

Jadi menurut Schelingser audiens atau pembaca adalah sudah menjadi rutinitas sebuah media. Ini dikarenakan pemilihan sebuah pemberitaan dan pengemasan mengikuti selera dari pembaca atau audiens. Ini berkaitan dengan keuntungan sebuah media yang bergantung pada audiens.

Media juga mempunyai tugas dalam mengemas suatu pemberitaan menjadi sebuah struktur cerita. Pada media cetak contohnya sebuah cerita pada media cetak harus mudah dibaca ( readable ), foto pada sebuah berita harus memiliki kaitan dengan sebuah cerita pada sebuah media cetak dan judul pada sebuah headline harus memberikan perhatian langsung audiens terhadap sebuah pemberitaan. Sebuah cerita pada pemberitaan merepresentasikan proses rutinitas “ apa yang sedang terjadi” dan membimbing reporter untuk menentukan mana fakta yang bisa ditransformasikan menjadi sebuah komoditas pemberitaan.[12]

Di sisi lain media pun diharuskan untuk selalu membuat pemberitaan yang objektif, faktual dan terpercaya. Menurut Michael Schudson  para reporter wajib menghibur audiens di satu sisi dan memberikan pemberitaan yang faktual pada satu sisi. Karena sebuah objektifitas pada sebuah media membantu sebuah media melegitimasi dirinya. Ini berkaitan dengan kredibilitas sebuah media yang membuat sebuah pemberitaan.[13]

Jadi pemberitaan sebuah media juga tidak selalu mengikuti apa kemauan dari audiens tapi juga mengikuti fakta-fakta apa saja yang berkembang di lapangan, dan inilah yang mebentuk pembentuk pemberitaan sebuah media pada unsur audiens di level media rutin.

Unsur selanjutnya yang membentuk level rutinitas media adalah organisasi media atau pengolah pemberitaan ( processor ). Unsur yang paling berpengaruh pada organisasi media adalah editor media atau yang biasa disebut sebagai “gatekeeper”. Editor pada setiap media adalah yang menetukan mana berita yang layak untuk diterbitkan atau tidak. Hasil pencarian berita oleh wartawan diputuskan oleh editor di meja redaksi. Jadi editor lah yang menetukan mana berita yang layak terbit. Kebijakan dari editor lah yang menetukan rutinitas sebuah media dalam menentukan pemberitaan.

Jenis media pun mempengaruhi rutinitas sebuah media yang pada akhirnya berpengaruh pada isi dari media. Contoh yang paling menonjol adalah perbedaan antara media cetak dengan media penyiaran seperti televisi. Para pencari berita media cetak lebih bebas dalam memberikan warna pada pemberitaannya. Ini dikarenakan media cetak terbit sekali sehari dan tidak ada tuntutan untuk memberitakan sebuah berita secara langsung. Sedangkan reporter televisi lebih terpaku dalam memberitakan sebuah berita. Biasanya seorang reporter memberitakan langsung dari tempat kejadian dan hanya bersifat melaporkan.

Unsur lain dalam rutinitas media adalah sumber berita. Sumber berita adalah dimana berita didapatkan oleh para pencari berita. Sumber berita biasanya adalah lembega pemerintah, swasta, lembaga swadaya masyarakat, partai politik dan lain sebagainya. Lembaga-lembaga ini dapat mempengaruhi pemberitaan sebuah media dikarenakan, kadang lembaga-lembaga ini memberikan pesanan agar berita yang keluar dari sebuah media tidak bertentangan dengan lembaganya.

Walaupun sumber berita tidak terlalu berdampak signifikan pada konten dari sebuah media, tetapi ketergantungan sebuah media dengan sebuah berita sedikit banyak dapat mempengaruhi sebuah pemberitaan. Biasanya terjadi simbiosis mutualisme antara antara sumber berita dengan media yang mencari berita. Sebuah media mendapatkan bahan berita dengan mudah sedangkan sebuah lembaga mendapatkan pencitraan yang baik tentang lembaganya.

Rutinitas dari sebuah media memiliki pengaruh yang penting pada produksi isi simbolik. Mereka membentuk lingkungan dimana pekerja media melaksanakan pekerjaannya.[14] Dan pengaruh rutinitas ini berpengaruh secara alami karena bersifat keseharian dan terkesan tidak memaksa pekerja media.

 

  1. 3.      Level Pengaruh Organisasi

Level ketiga dalam teori hirarki pengaruh media adalah level organisasi media. Pada level ini kita akan membahas pengaruh organisasi pada sebuah media kepada sebuah pemberitaan. Dan kita akan membahas seberapa kuat pengaruh pada level organisasi ini pada sebuah pemberitaan. Level organisasi ini berkaitan dengan struktur manajemen oraganisasi pada sebuah media, kebijakan sebuah media dan tujuan sebuah media.

Berkaitan dengan level sebelumnya pada teori hirarki pengaruh yaitu level individu dan level media rutin, level organisasi lebih berpengaruh dibanding kedua level sebelumnya. Ini dikarenakan kebijakan terbesar dipegang oleh pemilik media melalui editor pada sebuah media. Jadi penentu kebijakan pada sebuah media dalam menentukan sebuah pemberitaan tetap dipegang oleh pemilik media. Ketika tekanan datang untuk mendorong, pekerja secara individu dan rutinitas mereka harus tunduk pada organisasi yang lebih besar dan tujuannya.[15]

Pengaruh dari organisasi level lebih besar dibandingkan dua level sebelumnya dikarenakan berhubungan dengan sesuatu pengaruh yang lebih besar, lebih rumit dan struktur yang lebih besar. Kebijakan dari pimpinan sebuah organisasi media lebih kuat dibanding level yang lebih rendah yang meliputi pekerja media dan rutinitas.

Berkaitan dengan struktur dan kebijakan sebuah organisasi dari sebuah media tentunya berkaitan dengan tujuan dari sebuah media. Tujuan dari sebuah media pada sistem ekonomi kapitalis tentunya berkaitan dengan profit. Seperti apa yang dikatakan oleh Shoemaker dan Reese bahwa nilai kepercayaan mendasar pada sistem ekonomi kapitalis adalah kepemilikan individu, pengejaran untuk yang berkaitan dengan kepentingan pengusaha dan pasar bebas.[16] Tujuan dari profit ini selain untuk menggerakkan roda organisasi dan kelangsungan sebuah media juga berkaitan dengan keuntungan yang akan didapat dari sebuah media.

Dan karena faktor ekonomi lah yang menyebabkan sebuah media yang jarang sekali mengkritisi sebuah sponsor yang memberikan keuntungan pada sebuah media, dalam hal ini seperti iklan. Contohnya jarang sekali media yang mengkritisi pemakaian produk rokok pada masyarakat yang menjadi sponsornya. Ini dikarenakan jika sebuah media mengkritisi maka perusahaan rokok yang mensponsori sebuah media akan menarik iklannya dari media tersebut. Dan pada akhirnya akan menyebabkan kerugian pada media tersebut.

         Selain kebijakan yang berkaitan dengan sponsor, terkadang pemilik sebuah  media memiliki afiliasi politik atau pemimpin sebuah partai politik. Inilah yang mempengaruhi pemberitaan sebuah media karena berkaitan dengan kepentingan politik pemilik media. Jadi besar kemungkinan pemberitaan yang diberitakan tidak akan bertentangan dengan kebijakan politik sebuah organisasi yang berafiliasi dengan pemilik media.

Dalam organisasi media ada tiga tingkatan umum. Lini depan karyawan, seperti penulis, wartawan dan staf kreatif, mengumpulkan dan mengemas  bahan baku. Tingkat menengah terdiri dari manajer, editor, produser dan orang lain yang mengkoordinasi proses dan memediasi komunikasi antara level bawah dan level atas yang mengeluarkan kebijakan organisasi. Eksekutif tingkat atas perusahaan dan berita membuat kebijakan organisasi, anggaran yang ditetapkan, membuat keputusan penting, melindungi kepentingan komersial dan politik perusahaan dan bila perlu mempertahankan karyawan organisasi dari tekanan luar.[17]

Jadi menurut Shoemaker dan Reese ada tiga tingkatan pada struktur sebuah media yaitu tingkatan pertama yang terdiri dari pekerja lapangan seperti penulis berita, reporter dan tim kreatif. Sedangkan mengenal menengah terdiri dari manager, editor, produser dan lembaga yang berhubungan dengan tingkatan pertama dengan tingkatan ketiga. Dan level yang teratas adalah korporasi media yang membuat kebijakan dan keputusan pada sebuah media.

Jika dilihat dari model struktur yang disebutkan di atas terjadi jarak antara para jurnalis atau pencari berita dengan para pemimpin di sebuah media. Posisi editor yang berada di tengah-tengah antara pemimpin media dengan para jurnalis, membuat posisinya terbagi dua. Di satu sisi editor sebagai pengolah berita tapi di satu sisi editor dituntut untuk mengemas pemberitaan yang menjual yang akan mendatangkan keuntungan yang besar bagi sebuah media. Editor harus memahami di mana anggaran mereka cocok dengan gambaran keuangan yang lebih besar dari perusahaan mereka, dan di mana prioritas berita sesuai rencana strategis secara keseluruhan.[18]

Semakin kompleksnya struktur organisasi pada sebuah media telah membuat sistem kebijakan pada sebuah media menjadi semakin hirarkis. Sistem birokrasi yang rumit antara pekerja media dengan para pemimpin media semakin menghilangkan sisi sensitif antar pemimpin media dengan pekerjanya. Dan ini adalah bentuk professionalisme di dunia media.

Para pemimpin media tidak terlalu sering mengintervensi dan mempengaruhi sebuah berita secara spesifik, tetapi terkadang jika sebuah media mendapatkan intervensi dari sebuah institusi yang lebih berkuasa seperti pemerintah, pemimpin media akan langsung mengintervensi pemberitaan. Bahkan terkadang jika dibutuhkan atau mendesak, para pemimpin media terkadang mengintervensi melalui kebijakannya walaupun merubah rutinitas sebuah media.

Walaupun level ini tidak terlalu dikaji lebih dalam teori hirarki pengaruh media tetapi level organisasi pada teori ini memiliki banyak unsur yang harus dikritisi, seperti stuktur organisasi media, kebijakan pada sebuah media dan metode dalam menetapkan kebijakan.[19] Ini dikarenakan kebijakan perusahaan yang bersifat mengikat dan dapat mempengaruhi konten dari sebuah media.

Di satu sisi tujuan keuntungan untuk sebuah perusahaan turut mempengaruhi konten dari sebuah media. Dan sifatnya mengikat pada pekerja media yang mengharuskan pekerja media mencari pemberitaan yang menguntungkan. Titik fokus level ini adalah pada pemilik atau pemimpin media yang menentukan kebijakan sebuah media.

  1. 4.      Level Pengaruh Luar Organisasi Media

Level keempat dalam Teori Hirarki Pengaruh Media adalah level pengaruh dari luar organisasi  media atau yang biasa disebut extra media level. Extra media level sendiri adalah pengaruh-pengaruh pada isi media yang berasal dari luar organisasi media itu sendiri. Pengaruh-pengaruh dari media itu berasal dari sumber berita, pengiklan dan penonton, kontrol dari pemerintah, pangsa pasar dan teknologi.

Kita mulai pembahasan pengaruh extra media dari unsur sumber berita. Sumber berita memiliki efek yang sangat besar pada konten sebuah media massa, karena seorang jurnalis tidak bisa menyertakan pada laporan beritanya apa yang mereka tidak tahu. Contohnya adalah seorang jurnalis hampir tidak pernah menjadi saksi mata sebuah kecelakaan pesawat. Hingga untuk mendapatkan sebuah berita mereka mendapatkan informasi dari jurnalis lainnya, dari orang yang berada di tempat kejadian, dari sumber resmi pemerintah dan polisi, dari petugas bandara dan dari advokasi keselamatan konsumen; dan dari tiap individu memiliki sudut pandang yang unik dan berbeda tentang apa yang terjadi.[20]

Contoh di atas menjelaskan bahwa si media yang diberitakan oleh seorang juranlis dapat dibentuk oleh sumber berita. Karena sudut pandang yang berbeda dari sumber berita itu sendiri. Bahkan kadang sumber berita juga bisa menjadi bias bagi sebuah berita karena sumber berita juga bisa bohong terhadap seorang jurnalis dalam sebuah wawancara.

Unsur selanjutnya dari level extra media adalah unsur pengiklan dan pembaca. Unsur ini sangat berpengaruh dalam level ekstra media karena iklan dan pembaca adalah penentu kelangsungan sebuah media, kedua unsure inilah yang membiayai jalannya produksi dan sumber keuntungan dari sebuah media. Menurut J. H. Altschull yang dikutip oleh Shoemaker dan Reese : “Sebuah konten dari pers secara langsung berhubungan dengan kepentingan yang membiayai sebuah pers. Sebuah pers diibaratkan sebagai peniup terompet, dan suara dari teromper itu dikomposisikan oleh orang yang membiayai peniup terompet tersebut. Ini bukti secara substansial bahwa isi dari media secara langsung maupun tidak langsung dipengaruhi oleh pengiklan dan pembaca. [21]

Pengaruh pemasangan iklan juga terlihat pada isi media yang dirancang sedemikian rupa sehingga memiliki pola-pola yang sama dengan pola konsumsi target konsumen.[22] Media dalam hal ini mencoba menyesuaikan pola yang konsumen yang ingin dicapai oleh para pengiklan untuk mendapatkan keuntungan sangat besar. Pemasang iklan menggunakan kekuatan modalnya yang membiayai sebuah media, agar konten dari media tidak bertentangan dengan kepentingan citra dari produknya.

Karena pemasukan dari iklan sangat penting bagi berlangsungnya kehidupan sebuah media massa komersil, perusahaan iklan yang lebih besar menjadi memiliki kekuatan yang lebih besar, contohnya perusahaan multinasional dan agensi periklanan memiliki kekuatan untuk menyensor pesan atau pemberitaan yang diberikan sebuah media.

Perusahaan rokok bisa jadi memiliki kontrol yang sangat besar terhadap konten sebuah media. Pemberitaan sebuah media biasanya tidak memberitakan secara gamblang tentang bahaya merokok. Jika pun ada pemberitaan tentang bahaya merokok biasanya pemberitaan dibuat secara bias oleh sebuah media. Pengaruh yang besar dari perusahaan rokok ini dikarenakan perusahaan rokok adalah pengiklan yang sangat menguntungkan bagi sebuah media, dan inilah yang membentuk kekuatan tersendiri bagi perusahaan rokok untuk mempengaruhi isi sebuah media.

Unsur ketiga yang mempengaruhi konten pada pemberitaan sebuah media adalah kontrol dari pemerintah. Pemerintah dapat mengkontrol pemberitaan sebuah media jika bertentangan dengan kebijakan sebuah pemerintahan dalam sebuah negara. Kontrol dari pemerintah biasanya berupa sebuah kebijakan peraturan perundang-undangan atau dari lembaga negara seperti Kementerian atau lembaga negara lainnya.

Penguasa atau pemerintah memberikan pengaruh besar kepada isi pesan media. Kekuatan media dalam membentuk agenda publik sebagian tergantung pada hubungan media bersangkutan dengan pusat kekuasaan. Jika media memiliki hubungan yang dekat dengan kelompok elit di pemerintahan, maka kelompok tersebut akan mempengaruhi apa yang harus disampaikan oleh media.[23]

Biasanya kontrol terhadap media yang sangat ketat terjadi pada negara-negara yang tidak terlalu demokratis dalam penerapan pemerintahannya. Faktor ini dikarenakan Negara yang lebih demokratis lebih memberikan kebebasan kepada media dalam menyampaikan informasi kepada masyarakat. Sedangkan Negara-negara yang tidak demokratis cenderung lebih ketat dalam pengawasan terhadap media. Pada sebagian negara dimana medianya dimiliki oleh swasta, kontrol yang dilakukan oleh pemerintah antara lain melalui hukum, regulasi, lisensi dan pajak. Sedangkan pada negara yang medianya sebagian besar dimiliki oleh pemerintah, bentuk kontrol pemerintahnya adalah melalui keuangan media itu sendiri.[24]

Kekuatan yang besar dari pemerintah yang mengikat sebuah media membuat pemberitaan sebuah media tidak dapat bertentangan dengan kebijakan pemerintah sebuah negara. Jika pemberitaan sebuah media bertentangan dengan pemerintah, maka akan terjadi sensor yang akan dilakukan oleh sebuah lembaga negara. Dan hal inilah mengapa peran pemerintah dalam membentuk pemberitaan sebuah media menjadi sangat besar sekali.

Unsur keempat yang mempengaruhi isi dari pemberitaan sebuah media adalah pangsa pasar media. Media massa beroperasi secara primer pada pasar yang komersil, dimana medias harus berkompetisi dengan media lainnya untuk mendapatkan perhatian dari pembaca dan pengiklan.[25] Inilah yang membuat media berlomba-lomba untuk mendapatkan keuntungan dari iklan dan pembaca lewat konten dari media itu sendiri.

Komunitas media dimana media tersebut juga dapat mempengaruhi konten dari media itu sendiri. Komunitas media adalah lingkungan dimana media tersebut beroperasi, dan komunitas ekonomi tersebut sama seperti masalah sosial yang dapat berefek terhadap media itu sendiri. Contohnya adalah komunitas atau pasar yang lebih besar pada sebuah stasiun televisi biasanya membentuk pemberitaan yang spontan tentang sebuah kejadian, sedangkan stasiun televisi pada pasar yang lebih fokus pada jenis pemberitaan seperti feature dan acara lain yang bisa disiapkan sebelumnya.[26]

Stasiun tv dengan pasar yang lebih kecil juga biasanya lebih terfokus oleh pemberitaan yang bersifat lokal dibanding stasiun tv yang memiliki pasar yang lebih besar. Kecendrungan seperti ini dikarenakan dana yang lebih sedikit dan staff yang lebih sedikit yang dimiliki oleh stasiun tv kecil dibanding dengan stasiun tv yang lebih besar. Sama seperti yang terjadi pada media elektronik seperti televisi, di media cetak seperti koran pun kecendrungan ini terjadi. Biasanya koran yang lebih kecil lebih terfokus pada suara komunitas yang lebih kecil dibanding koran besar yang lebih pada pemberitaan yang lebih luas.

Unsur yang terakhir yang membentuk efek dari luar organisasi media adalah teknologi. Konten media dapat dipengaruhi oleh teknologi yang digunakan. Kemajuan teknologi turut memberikan pengaruh bagi konten sebuah media. Teknologi seperti komputer dapat memudahkan sebuah media untuk memberikan berita yang lebih luas kepada masyarakat.

Ada empat alasan mengapa teknologi dapat mempengaruhi sebuah media terutama media cetak, pertama, komputer membantu editor dan penyunting berita untuk menyiapkan grafik informasi yang bisa memberikan pemberitaan yang lebih baik. Kedua, teknologi pada komputer dapat membuat kualitas foto yang lebih baik bagi media cetak. Ketiga, reporter menggunakan computer untuk mengakses data dan menggunakan informasinya untuk menyiapkan berita yang lebih baik. Keempat, sebuah media cetak dapat membuat halaman dengan computer, editor dapat memiliki kontrol yang lebih terhadap design dari halaman.[27]

Dan terobosan dalam hal teknologi yang melahirkan media baru seperti internet, turut menciptakan era konvergensi media. Konvergensi media sangat membantu karena turut mempercepat arus informasi. Media seperti televisi, koran, telepon dan media informasi lainnya menyatu dalam internet. Kemajuan ini sangat menguntungkan tapi juga berpengaruh pada konten media. Biasanya konten berita pada media seperti internet lebih pada model berita straight news.  Ini dikarenakan arus pemberitaan yang sangat cepat dan berita yang lama lebih cepat tergantikan dengan berita yang baru. Dan internet juga memunculkan fenomena citizen journalism yaitu pemberitaan dari masyarakat pembaca itu sendiri, ini dikarenakan pada internet masyarakat dapat membuat beritanya sendiri

  1. 5.      Level Pengaruh Ideologi

Level yang terakhir pada teori hirarki pengaruh Pamela J. Shoemaker dan Stephen D. Reese adalah level pengaruh ideologi pada konten media. Pada level ini kita membahas ideologi yang diartikan sebagai kerangka berpikir tertentu yang dipakai oleh individu untuk melihat realitas dan bagaimana mereka menghadapinya. Berbeda dengan level pengaruh media sebelumnya yang tampak konkret, level ideologi ini abstrak. Level ini berhubungan dengan konsepsi atau posisi seseorang dalam menafsirkan realitas dalam sebuah media.

Sebelum berangkat lebih jauh mengenai level pengaruh ideologi ini, kita akan membahas lebih dahulu pengertian ideologi itu sendiri. Ideologi menurut pandangan teori kritis adalah sekumpulan ide-ide yang menyusun sebuah kelompok nyata, sebuah representasi dari sistem atau sebuah makna dari kode yang memerintah bagaimana individu dan kelompok melihat dunia. Dalam Marxisme klasik, sebuah ideologi adalah sekumpulan ide-ide keliru yang diabadikan oleh ide yang dominan.[28] Dalam pandangan Marxis klasik, ideologi hanyalah ide-ide atau pemahaman yang digunakan oleh kelas yang dominan untuk menanamkan kesadaran palsu bagi kelas yang tertindas untuk melanggengkan kekuasaannya.

Ada tiga definisi ideologi menurut seorang pakar cultural studies Raymond Williams yang dikutip oleh Eriyanto, ideologi adalah sebuah sistem kepercayaan yang dimiliki oleh kelompok atau kelas tertentu,  sebuah sistem kepercayaan yang dibuat ide palsu atau kesadaran palsu, proses umum produksi makna dan ide.[29]

Ada beberapa kesamaan definisi tentang ideologi menurut para pemikir Marxis klasik dengan Raymond Williams. Keduanya memandang bahwa ideologi adalah sistem artikulasi makna yang dikuasai oleh kelompok dominan yang dibuat  ide palsu atau kesadaran palsu.

Pada level ini kita akan membahas apa kepentingan yang bermain pada level lainnya terutama level yang berhubungan sangat erat dengan kekuasaan sebuah media yaitu level organisasi media dan level rutinitas media. Pada level ini  kita juga mempelajari hubungan antara pembentukan sebuah konten media nilai-nilai, kepentingan dan relasi kuasa media.

Pada level ideologi ini kita melihat lebih dekat pada kekuatan di masyarakat dan mempelajari bagaimana kekuatan yang bermain di luar media. Kita berasumsi bahwa ide memiliki hubungan dengan kepentingan dan kekuasaan, dan kekuasaan yang menciptakan simbol adalah kekuasaan yang tidak netral. Tidak hanya berita tentang kelas yang berkuasa tetapi struktur berita agar kejadian-kejadian diinterpretasi dari perspektif kepentingan yang berkuasa.[30]

Jadi pada level ini kita berbicara lebih luas mengenai bagaimana kekuatan-kekuatan yang bersifat abstrak seperti ide mempengaruhi sebuah media terutama ide kelas yang berkuasa. Pada level ini pun kita akan melihat bagaimana kaitan antara level ideologi dengan level-level lainnya. Tetapi kita melihat lebih jauh bagaimana ideologi kelas yang berkuasa mempengaruhi sebuah pemberitaan bukan dengan kepentingan yang bersifat individu atau yang bersifat mikro tapi kepentingan kelas yang berkuasa. Kelas yang berkuasa  yang melanggengkan sistem kapitalis secara struktural melalui media.

  1. Media dan Kontrol Sosial

Media sebagai salah satu agen perubahan sosial, juga memiliki kemampuan untuk memberikan penafsiran atau dapat mendefinisikan situasi yang membuatnya memiliki kekuatan ideologi. Ini sangat berkaitan dengan hubungan media dengan kekusaan, karena media dapat mentransmisikan bahasa yang  dapat melanggengkan kelompok yang berkuasa. Hegemoni dari ide-ide pun hanya dapat berjalan efektif dan menemukan kekuatannya tatkala ia menggunakan bahasa hanya sebagai alat dominasi, sekaligus alat represif.[31] Media memilki kekuasaan ideologis sebagai mekanisme ideologi sosial dan fungsi kontrol sosial.

Sebagai salah satu agen perubahan pada sebuah masyarakat, media memiliki fungsi untuk mendefinisikan sebuah penyimpangan di masyarakat. Jika dilihat dari pandangan teori interaksionisme simbolik, penyimpangan dipandangan bukan sebagai perubah kondisi masyarakat tetapi secara bertahap menjadi definisikan dan renegosiasi sebagai peserta dalam sebuah interaksi dengan simbol yang lainnya. Dalam hal ini media memiliki kemampuan untuk memberikan batasan terhadap ide baru, menegaskan kembali norma yang sebelumnya berlaku dan mendefinisikan batasan dalam masyarakat.[32]

Walaupun pada perjalanannya media dengan kemampuannya mendefinisikan sebuah penyimpangan tidak hanya sebagai alat untuk menyampaikan label penyimpangan yang dibuat oleh kelompok lain di luar media. Melampaui itu semua media memiliki keputusan tersendiri dalam mendefinisikan sebuah penyimpangan.

Dalam membuat sebuah berita pun media memiliki beberapa kiteria pemberitaan yang berkaitan dengan penyimpangan contohnya seberapa besar kontroversi sebuah berita, seberapa mencoloknya sebuah berita dan factor ketidakbiasanya sebuah berita. Dan beberapa faktor ini menjelaskan sekali bahwa media dapat mendefinisikan sebuah penyimpangan.

Tapi media dalam kemampuannya mendenisikan sebuah penyimpangan, selalu berada di pihak yang berkuasa. Sebagai agen kontrol sosial media harus lebih dulu mengidentifikasi ancaman bagi status quo. Dalam sebuah pemberitaan sebuah media bisanya justru tidak menyaring sebuah penyimpangan tapi justru menggambarkan penyimpangan sebagai penegasan penyimpangannya.[33]

Ide-ide yang baru lahir yang bertentangan atau tidak sesuai dengan penguasa, seringkali didefinisikan sebagai penyimpangan dan saat inilah tugas media difungsikan untuk menjelaskan atau pelabelan penyimpangan pada ide-ide baru tersebut. Situasi ini terjadi karena di satu sisi media memiliki kemampuan untuk mendefinisikan sebuah situasi dan di sisi lain media mendapatkan tekanan dari kekuataan dari luar maupun di dalam media yang mewajibkan media untuk melanggengkan kekuasaan.

Melalui pendekatan yang tidak disadari oleh khalayak yang ditanamkan ideologi palsu, media dapat menetapkan batasan dan mendefinisikan penyimpangan melalui manipulasi bahasa. Dan proses penanaman ideology palsu yang ditanamkan yang tanpa disadari oleh masyarakat akan dibahas pada pembahasan selanjutnya.

  1. Kekuaasan dan Ideologi : Menurut Paradigma Marxis

Sebagaimana pandangan para pemikir Marxis  klasik yang memandang bahwa media sebagai alat bantu dari kelas yang dominan dan media menyebarkan ideologi dari dorongan yang berkuasa dalam masyarakat dang dengan demikian menindas golongan-golongan tertentu.[34] Media memiliki andil besar dalam menyalurkan gagasan-gagasan kelas yang dominan sebagai cara untuk mengusai kelas yang tertindas. Situasi ini terjadi karena media memiliki kuasa di balik media yang mempengaruhi sebuah pemberitaan. Maka penting bagi kita untuk membahas relasi kuasa dengan ideologi yang notabenenya dapat disebarkan oleh media kepada kelas yang ditindas.

Menurut John Thompson seperti yang dikutip oleh Shoemaker dan Reese, ideology berbicara tentang makna dalam pelayanannya kepada kekuasaan. Karena itu studi ideologi mengharuskan kita untuk menyelidiki cara di mana makna dikonstruksi dan disampaikan oleh bentuk simbolik lewat berbagai bentuk.[35] Proses penyampaian secara simbolik makna yang dikuasai oleh kelas berkuasa ini adalah melalui media.

Pada level seperti apa yang dijelaskan di atas lebih banyak mempelajari relasi antar kuasa dan media melalui perspektif teori kritis. Kita akan melihat bagaimana media membentuk kesadaran pada khalayak dan menciptakan ide-ide palsu melalui proses simbolik. Fokus kajian kritis media adalah pada kelas dominan yang memanfaatkan media untuk memanipulasi kesadaran khalayak atau individu. Hal ini dilakukan dengan memanipulasi gambaran dan simbol untuk kepentingan kelompok yang dominan. Selanjutnya kita akan mencoba membahas level ideology melalui dua pendekatan kritis yaitu teori ekonomi politik dan melalui pendekatan studi budaya.

Pendekatan dalam tradisi Marxis yang paling klasik dalam studi media adalah studi ekonomi politik media. Teori ini mengaitkan antara media dengan kepentingan ekonomi politik yang menguasai media. Sesuai dengan keprcayaan Marx bahwa setiap organisasi ekonomi ada struktur dominasi.[36] Jadi media sebagai sebuah organisasi ekonomi pun memiliki struktur yang mendominasi masyarakat. Struktur dominasi pun tidak hanya pada faktor ekonomi tapi juga pada faktor ideologi. Ideologi ini pun pada dasarnya untuk menanamkan kedaran palsu untuk melanggengkan sistem kapitalis.

Menurut Little John  ekonomi politik media memandang  bahwa isi media merupakan komoditas untuk dijual di pasaran, dan informasi yang disebarkan diatur oleh apa yang akan akan diambil oleh pasar. Sistem ini merujuk pada operasi yang konservatif dan tidak berbahaya, menjadikan jenis program tertentu dan saluran media tertentu dominan dan yang lainnya terpinggirkan.[37]

Asumsi dasar teori ini adalah bahwa ekonomi sebagai faktor yang determinan dalam segala hal, termasuk media. Kepemilikan media yang dikuasai oleh korporasi-korporasi besar menguasai segala hal yang menjadikan media sebagai “pabrik” dari kesadaran palsu yang ditanamkan kepada masyarakat. Dan asumsi dasar teori ini adalah bahwa konten atau isi dari media hanyalah komoditas dari sistem kapitalis. Jadi isi media yang dihasilkan oleh media hanyalah hasil produksi oleh sebuah media, oleh karena isi media hanya dipandang sebagai komoditas yang dapat dijual maka kebenaran dari sebuah pemberitaan menjadi tidak terlalu diperhatikan karena media hanya mengutamakan faktor berita itu menjual atau tidak.

Pada industri informasi, wacana yang dikomodifikasi menjadi komoditi bukan lagi suatu hal yang bertendensi kebutuhan masyarakat, melainkan menarik perhatian pasar.[38] Marx mengatakan bahwa pasar dalam setting kapitalis mempunyai dua tujuan yaitu, pertama sebagai mekanisme untuk mesirkulasikan commodity-money-commodity, dan yang kedua sebagai mekanisme penggunaan mencetak uang melalui proses money-commodity-money.[39]  Dan isi media hanya dilihat sebagai komoditas yang menarik keuntungan. Tanpa melihat manfaat sebuah pemberitaan kepada masyarakat tapi lebih menekankan pada keuntungan yang akan didapat oleh pemilik media.

Isi media pun menjadi terdistorsi karena intervensi pemilik media kepada pengelolaan sebuah berita. Saya akan mencoba meminjam beberapa proposisi menurut Altschull dalam mempelajari kontrol pemilik media. Pertama, dibawah pola resmi, media dikontrol oleh negara, seperti contohnya pada negara-negara komunis. Kedua, dibawah pola komersil, media merefleksikan ideologi dari pengiklan dan para pemilik media. Ketiga, di bawah pola kelompok kepentingan, isi media merefleksikan ideologi dari kelompok pemberi dana seperti partai politi dan kelompok religius. Dan yang terakhir, pada pola informal, isi media merefleksikan tujuan dari individu yang ingin mempromosikan pandangannya. Kesimpulan Altschull dari proposisinya ini adalah bahwa media merefleksikan ideologi kelompok yang membiayai mereka. [40]

Melihat gagasan yang diajukan oleh Altschull ini jelas sekali menampakan bahwa media hanyalah alat dari kelompok-kelompok yang membiayainya. Walaupun idealnya media seharusnya bebas dari intervensi atau kontrol kelompok apapun. Namun pada kenyataannya isi media terkadang merefleksikan ideologi dari kelompok yang membiayainya atau yang menjalankannya.

Dari kelompok-kelompok ini tentunya memiliki agenda atau kepentingan. Tentunya kepentingan-kepentingan bersifat subyektif, hanya untuk kepentingan kelompoknya masing-masing. Kepentingan-kepentingan yang menjadi tujuan-tujuan kelompok tersebut pun bersifat ideologis, yaitu untuk menanamkan pemahaman-pemahaman atau ide-ide yang bertujuan untuk melanggengkan kekuasaan kelompok yang membiayai media. Contohnya para politisi tentunya berkepentingan menguasai media untuk memberikan keuntungan secara politis terhadap dirinya seperti kemenangan pemilu. Pada gilirannya konten dalam media pun menjadi terdistorsi karena hanya melayani atu mengikuti keinginan kelompok yang membiayai media.

            Senada dengan asumsi yang dinyatakan oleh Altschull, Noam Chomsky dan Edward Herman pun berasumsi bahwa media melayani dominasi elit. Mereka beragumentasi bahwa ketika media dimiliki secara pribadi tanpa sensor resmi, seperti ketika secara langsung dikontrol oleh negara. Membuat media menjadi sistem propaganda.[41]  Yang dimaksud oleh Chomsky dan Herman adalah ketika media dikontrol oleh pihak-pihak swasta atau pribadi dan pemerintah, fungsi media menjadi bergeser. Media yang seharusnya memberikan pemberitaan yang berimbang dan tidak memihak justru menjadi corong propaganda dari kelompok-kelompok tersebut.

            Chomsky dan Herman menggagas sebuah teori yaitu teori Manufacturing Consent, teori ini menjelaskan tentang saringan-saringan sebuah pemberitaan yang dikeluarkan oleh sebuah media sehingga menjadi sebuah propaganda atau komoditas yang menguntungkan kelompok-kelompok yang menguasai media.

Saringan pertama adalah modal, yang dimaksud disini adalah masalah kepemilikan media, modal dari pemilik dari media dan tujuan keuntungan dari pemilik media massa. Saringan yang kedua adalah iklan sebagai sumber keuntungan primer dari media massa. Saringan yang ketiga adalah ketergantungan terhadap sumber-sumber pemberitaan seperti pemerintah dan lembaga lainnya.

Saringan yang keempat adalah “flak”, yang dimaksud flak disini adalah lembaga yang mendisiplinkan media. Seperti lembaga pengawas media atau dewan pers. Dan saringan yang terakhir adalah anti komunisme sebagai kepercayaan nasional dari negara kapitalis dan mekanisme kontrol.[42] Walaupun kini terjadi pergeseran pada level terakhir ini yaitu anti Islam yang kini telah menjadi ideologi oposisi barat.

            Dari gagasan Chomsky dan Herman ini terlihat jelas bahwa terdapat penyensoran atau penyaringan dalam pembuatan sebuah berita di media. Dan penyensoran ini tentunya sejalan dengan kepentingan kelompok yang berkuasa di balik media. Tentunya ide-ide yang tidak sejalan dengan kepentingan pemilik media tidak akan diakomodir oleh sebuah media. Dan sama halnya dengan ide-ide yang tidak sejalan dengan kekuasaan sebuah pemerintah seperti seperti ide-ide kelompok oposisi.

Pendekatan ekonomi politik ini lebih menekankan pada aspek kuasa media yang dilakukan oleh pemilik modal atau oleh pemerintah. Dimana kuasa-kuasa di balik media seperti pemerintah memanfaatkan media untuk mendapatkan keuntungan seperti kekuasaan dan keuntungan materi lewat penguasaan media.

Pendekatan media selanjutnya dalam tradisi Marxis adalah pendekatan studi budaya atau yang biasa disebut cultural studies. Pendekatan studi budaya ini lebih menekankan pada studi tentang teks media sebagai penghasil ideologi dibandingkan dengan dengan pendekatan ekonomi politik yang lebih melihat kepada aspek ekonomi dan politik. Studi ini beranggapan bahwa media adalah media adalah instrumen kekuasaan kelompok elit dan media berfungsi menyampaikan pemikiran kelompok yang mendominasi masyarakat, terlepas apakah pemikiran itu efektif atau tidak. [43] Media dipandang sebagai alat untuk melegitimasikan kekuasaan kelompok yang berkuasa kepada masyarakat.

Kata kunci dari teori ini adalah hegemoni. Konsep dari teori tentang hegemoni ini sendiri digagas oleh pemikir Marxis dari Italia yaitu Antonio Gramsci.[44] Pengertian dari hegemoni sendiri adalah dominasi ideologi palsu atau cara fikir terhadap kondisi sebenarnya. Ideologi tidak disebakan oleh sistem ekonomi saja, tetapi ditanamkan secara mendalam pada semua kegiatan masyarakat. Jadi, ideologi tidak dipaksakan oleh satu kelompok kepada yang lain, tetapi bersifat persuasif dan tidak sadar.[45] Jadi suatu kelompok atau masyarakat secara langsung tidak menyadari bahwa sebenarnya media telah mentransmisikan ide-ide kelompok dominan kepadanya.

Nilai hegemoni pada sebuah berita sangat efektif dalam penyerapannya pada akal sehat, karena hegemoni diciptakan secara alami dan ditempatkan tidak secara memaksa tapi secara tidak langsung lewat rutinitas media dan antar hubungan antara media dengan pusat kekuasaan.[46]

Jadi pekerja media atau khalayak pun tidak akan merasakan proses hegemoni yang dilakukan kekuasaan dibalik media. Ini dikarenakan proses hegemoni media dalam menanamkan ideologi kelas yang dominan tidak secara memaksa sehingga tidak ada perlawanan dari kelompok yang dihegemoni.

Hegemoni merupakan proses yang bersifat cair dan menurut Stuart Hall menyebut hegemoni bersifat temporer dengan ciri adanya pertunjukan pertarungan, yang berarti berbagai ideology yang ada pada masyarakat bersifat kontradiktif. Dengan kata lain, perjuangan di antara berbagai ideology yang saling berkontradiksi itu akan terus menerus menghasilkan perubahan.[47] Senada dengan yang disampaikan oleh Raymond Williams bahwa hegemoni tidaklah  ada secara pasif sebagai bentuk dari dominasi. Hegemoni ini juga secara berlanjut menjadi diperbaharui, diciptakan kembali, dipertahankan dan dimodifikasi.[48] Jadi sebenarnya ide-ide yang ada media pun sebenarnya tidaklah homogen tetapi bersifat heterogen dan saling bertentangan sehingga menghasilkan ide-ide baru yang bertujuan untuk mendominasi. Media pada hal ini menjadi alat untuk bergulatnya ideologi ini.


[1] Pamela J Shoemaker dan Stephen D. Reese, Mediating The Message (New York ,Longman Publisher : 1996) h. 60

[2] Stephen D. Reese, Setting the media’s Agenda: A power balance perspective (Beverly Hills: Sage, 1991), h. 324

[3] Stephen W. Littlejohn dan Karen A. Foss,Theories of Human Communication,8th ed. (Belmont: Thomson Wadsworth, 2005) h. 281

[4] Shoemaker dan Reese,Mediating The Message, h. 64

[5] Shoemaker dan Reese,Mediating The Message, h. 74

[6] Shoemaker dan Reese,Mediating The Message, h. 82

[7] Shoemaker dan Reese,Mediating The Message, h. 102

[8] Shoemaker dan Reese,Mediating The Message, h. 109

[9] Shoemaker dan Reese,Mediating The Message, h. 110

[10] Shoemaker dan Reese,Mediating The Message, h. 111

[11] Shoemaker dan Reese,Mediating The Message, h. 115

[12] Shoemaker dan Reese,Mediating The Message, h. 114

[13] Michael Schudson , Discovering The News (New York: Basic Books, 1978) h. 78

[14] Shoemaker dan Reese,Mediating The Message, h. 137

[15] Shoemaker dan Reese,Mediating The Message, h. 140

[16] Shoemaker dan Reese,Mediating The Message, h. 222

[17] Shoemaker dan Reese,Mediating The Message, h. 151

[18] Shoemaker dan Reese,Mediating The Message, h. 161

[19] Shoemaker dan Reese,Mediating The Message, h. 172

[20] Shoemaker dan Reese,Mediating The Message, h. 178

[21] Shoemaker dan Reese,Mediating The Message, h. 190

[22] Morisan, dkk., Teori Komunikasi Massa (Bogor: Ghalia Indonesia, 2010),h. 55

[23] Morisan, Teori Komunikasi Massa, h. 48

[24] Shoemaker dan Reese,Mediating The Message h. 199

[25] Shoemaker dan Reese,Mediating The Message h. 209

[26] Shoemaker dan Reese,Mediating The Message h. 211

[27] Shoemaker dan Reese,Mediating The Message h. 216.

[28] Stephen W. Littlejohn dan Karen A. Foss,Theories of Human Communication,9th ed. (Belmont: Thomson Wadsworth, 2005; reprint, Jakarta: Salemba Humanika, 2009) h. 469

[29] Eriyanto, Analisis Wacana: Pengantar Analisis Teks Media (Yogyakarta:  LkiS, 2001) h. 76

[30] Shoemaker dan Reese,Mediating The Message h. 224

[31] Listiyono Santoso, dkk.,  Epistemologi kiri (Yogyakarta: Ar-Ruzz Media, 2010) h. 24

[32] Shoemaker dan Reese,Mediating The Message h. 225

[33] Shoemaker dan Reese,Mediating The Message h. 225

[34] Littlejohn dan Foss, Theories of Human Communication, h. 432

[35] Shoemaker dan Reese,Mediating The Message h.  228

[36] Deliarnov, Ekonomi Politik (Jakarta: Penerbit Erlangga, 2006) h. 44

[37] Littlejohn dan Foss, Theories of Human Communication, h. 433

[38] Rahmi S, “Media Massa Pembentuk Kesadaran Publik,” artikel ini diakses pada 30 Sepetember 2011 dari  http://www.thesocratesmedia.com/media-massa/pembentuk/kesadaran-publik

[39] Deliarnov, Ekonomi Politik, h. 43

[40] Shoemaker dan Reese,Mediating The Message h. 231

[41] Shoemaker dan Reese,Mediating The Message h. 234

[42] Edward Herman dan Noam Chomsky, Manufacturing Consent: The Political Economy of Mass Media (New York: Pantheon, 1988) h. 2

[43] Morissan, Teori Komunikasi Massa, h. 162

[44] Santoso, Epistemologi kiri, h. 71

[45] Littlejohn dan Foss, Theories of Human Communication, h. 433

[46] Shoemaker dan Reese,Mediating The Message h. 236

[47] Morissan, Teori Komunikasi Massa, h. 166

[48] Raymond Williams, Marxism and Litelature (New York: Oxford University Press, 1977)  h.112-113

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: