ALAY SEBAGAI EFEK DARI BUDAYA POPULER

Apa sich alay? Mungkin ketika kita mendengar sebuah ungkapan tentang alay kita pasti berfikir tentang kata norak,lebay bahkan kampungan. Asumsi itu bisa benar bisa juga salah karena kita hanya bisa menjustifikasi tanpa melihat fakta-fakta yang sebenarnya mendinisikan kata alay tersebut. Sebelum kita terjebak dalam budaya mencaci dan mencemooh kelompok masyarakat ini ( jika bisa dimasukkan dalam sebuah kelompok) ada baiknya untuk kita sama-sama mendefinisikan ulang dan sama-sama merumuskan kembali kata alay tersebut. Menurut saya ungkapan alay mulai terdengar sekitar tahun 2009, banyak definisi yang menyatakan bahwa alay adalah singkatan dari “anak layangan”,”anak lebay” dan sebagainya. Singkatan ini dimaksudkan untuk anak-anak yang sering main layangan sehingga rambutnya merah terbakar matahari atau secara tidak langsung bermaksud untuk menyatakan bahwa mereka adalah “anak kampungan”. Dan mengenai masalah anak lebay ini untuk mengasosiasikan bahwa kelompok ini berlebihan seperti dalam style berpakaian, bermusik bahkan gaya hidup seperti sms menggunakan huruf besar kecil dan sebagainya. Walaupun sebelum tahun 2009 bahkan sampai saat ini banyak juga ungkapan atau stigma pada kelompok ini seperti untuk panggilan lainnya seperti darkam (darah kampung),wakamsi(warga kampung sini), cemlau,kunglau dan sebagainya. Panggilan tersebut sebenarnya mengarah pada kelompok yang sama. Permasalannya kita hanya bisa terjebak pada stigma atau “pencapan” suatu kelompok tanpa mengerti substansi permasalahan dan sebab apa mengkonstruk pada fenomena tersebut. Saya sendiri melihat bahwa alay ini adalah korban atau efek dari budaya popular. Apa itu budaya popular? Budaya populer dapat didefinisikan sebagai budaya yang muncul karena aktifitas sehari-hari, budaya yang muncul karena perilaku konsumtif yang terjadi pada masyarakat. Budaya populer lahir dari pengaruh media yang memproduksi industri hiburan seperti televisi, film, media cetak dan pemberitaan .Menurut Storey budaya populer adalah budaya yang diproduksi secara masal oleh masyarakat pada industri kebudayaan (Storey 1993). Budaya populer dapat juga dikatakan budaya komersil karena ikatan yang saling terkait dengan industri hiburan dan produk pakai pada budaya populer. Budaya populer lahir dari interaksi antara industri-industri dengan pemakai barang tersebut. Interaksi yang terbangun antara industri dan pemakai barang atau konsumen terfasilitasi oleh saluran media seperti televisi dan radio. Di era melimpahnya informasi yang ditandai dengan adanya teknologi komunikasi cyber yang sering kita sebut dengan internet cukup menambah saluran-saluran penyalur ideology konsumerime. Masyarakat dikonstruk pemikirannya untuk selalu membeli sehingga menjadi individu yang konsumtif. Dan yang mendapat keuntungan dari ini adalah pemilik modal (kaum kapitalis). Yang sering menjadi korban dari budaya popular ini adalah kawula muda. Stasiun-stasiun televisi yang menawarkan gaya hidup mewah,funky n happy mengkonstruk pemikiran mereka agar tidak “ketinggalan zaman”. Mulailah mereka berfikiran untuk selalu membeli dan membeli. Sebenarnya saya memandang bahwa budaya popular adalah budaya “keseragaman”, tentu maksud keseragaman di sini bukan bermakna positif tapi negative. Karena ideology kapitalisme yang menuntut masyrakat dunia ketiga (baca: Indonesia) untuk selalu membeli, memakai komoditas produksi mereka sehingga kita menjadi sama dan tidak ada perbedaan. Di era dimana pencitraan sangat diagung-agungkan ini masyarakat menjadi selalu mengikuti idola atau ikon yang ada pada media. Kita menjadi seragam mengikuti apa yang dipakai oleh idola kita. Sehingga berdampak tidak ada kreatifitas lagi pada setiap individu. Lalu apa kaitannya alay dengan budaya popular ini? menurut analisis saya, alay lahir dari dampak budaya popular. Ketika media secara massif menyalurkan saluran ideologinya pada kawula muda, maka terjadilah proses penyerapan ideology. Dan kemudian, lahirlah proses peniruan. Peniruan-peniruan yang diikuti oleh sebagian kawula muda tapi permasalahanya mereka tidak mengerti esensi dari apa yng ditirukannya. Sehingga hasil dari proses peniruan tersebut menjadi berlebihan atau tidak sesuai konteks dengan apa yang ditirukan. Contoh: ketika banyaknya televisi swasta seperti salah satunya MTV menyiarkan tayangan music yang menampilkan genre emo dengan style bermusik dan berpakaiannya yang khas. Lalu ramai-ramai kawula muda di Indonesia mengikuti style emo tersebut. Bahkan kadang peniruan ini bersifat tidak nyambung. Seperti contohnya dengan style emo ini mereka datang pada konser-konser band music melayu local maaf seperti kangen band,wali atau sesepuh mereka radja. Tentu ini sangat berbeda konteks dan tidak sinkron. Ini terjadi karena kawula muda yang akhirnya diasosiasikan sebagai alay ini tidak mengerti tentang esensi apa yang mereka tirukan. Yang menarik dari alay ini adalah eksistensi dari sebuah kelompok. Jadi maksudnya adalah sebuah identitas untuk menunjukan diri. Contohnya alay sering kali berpenampilan berlebihan walaupun kadang suka tidak terlihat cocok dan tidak pantas. Ini terjadi dikarenakan alay ini menunjukan eksistensi diri, tetapi yang disayangkan menjadi sangat tidak elok dan pantas. Gaya hidup mereka pun kadang bisa dibilang unik dan bahkan berlebihan, seperti contoh ketika menonton pertunjukan musik kelompok alay ini sering membawa atribut yang berlebihan seperti bendera band yang sebenarnya tidak nyambung dengan band yang tampil, style berpakaian yang bertabrakan, dan bahkan bendera supporter. Ini disebakan karena mereka ingin tampil pada era demokrasi populis ini sebagai dampak dari budaya populerr yang selalu menampilkan dan meniscayakan bahwa popularitas itu adalah sebuah jalan menuju penerimaan di masyarakat. Seperti yang dikatakan oleh Jean Baudrillard (1998) bahwa proses peneguhan identitas adalah upaya individu dalam meningkatkan akseptabilitas dirinya di tengah masyarakat. Media meniscayakan bahwa semakin terkenal maka semakin diterima di sebuah lapisan masyarakat. Ini terbukti dengan banyaknya program televisi yang menawarkan “terkenal secara instan”. Yang secara tidak langsung telah membuka peluang bagi terciptanya selebriti-selebriti instant pendatang baru a one night celebrity. Iming-iming menjadi kaya dan terkenal adalah sebagai pemicu efek domino demam selebriti berselera rendah. Maka lahirlah band-band one hits wonder seperti angkasa,wali dan kangen band. Tapi jika alay dikaitkan dengan salah satu strata social atau ekonomi saya sangat tidak setuju. Apalagi pemyebutan atau stigma ini ditunjukan untuk kaum menengah ke bawah. Karena alay bisa menyentuh semua aspek dalam lapisan ekonomi. Bukan berarti orang yang berkecukupan dalam hal ekonomi tidak bisa disebut alay. Mereka pun pantas menyandang predikat tersebut jika melakukan atau bersikap seperti apa yang saya paparkan di atas. Karena menurut saya alay adalah segala sesuatu yang berlebihan,tidak sesuai konteks,tidak mengerti esensi sehingga dapat merusak arti yang sebenarnya. Alay juga dapat dikatakan berselera rendahan karena bukan berasal dari hasil kreatifitas manusia tersebut tapi lebih kepada prose imitasi. So’ jika gak mau dipanggil alay jadilah mahasiwa yang kreatif,anti plagiatism,anti ikut-ikutan n be yourself. Coz PLAGIATISM IS HELL.

2 responses to this post.

  1. dasar Mr. Alay yg terkontaminasi ama idiologi yg semi opurtunis…… mana tulisan lw yg sedikit propokatif????

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: